Thursday, February 1, 2018

Tak Lagi Remaja(?)

Selamat  tahun baru 2018! mungkin ini kesekian kalinya saya minta maaf dengan diri saya sendiri karena sudah lupa untuk menumpahkan isi pikiran saya disini. Terhitung sudah hampair 2 tahun (lagi) melupakan akun ini dan tidak pernah menengok kembali. Baiklah sekarang saya berada di semester 2 kuliah dan Alhamdulillah saya menjadi mahasiswa di kampus yang berjaket kuning dan di setiap fakultas mempunyai warna makara yang berbeda. Kebetulan makara saya berwarna putih. Jadi yaa insyaAllah 3.5 tahun lagi nama saya nambah gelar jadi Nadira Nibras Adiba S.Hum.

So far kehidupan kampus cukup menyenangkan bagi saya. Tidak ada lagi ketakutan salah memakai baju seragam sehingga harus ditegur dengan guru BK. Namun kali ini yang menjadi masalah saya adalah disaat saya bingung 'baju apa yang harus saya pakai hariini?' atau 'ah ini sudah dipakai minggu lalu. kayak gapunya baju aja sih Nad' dan sebagainya.

Mungkin kalau dilihat dari cara penulisan saya dibanding 2 tahun lalu, ini jauh lebih baik. Lebih baku mungkin. Nyatanya mungkin ini menjadi tanda bahwa saya sudah menjadi lebih 'dewasa'. Jujur setelah melihat postingan saya yang dahulu kala masa saat negara api menyerang sangatlah 'alay'. Maafkan atas tuisan saya sangat amat tidak enak di baca. namanya juga remaja labil yang tengah mencari jati diri... HAHAHA. Ah ya berhubungan dengan judul part ini. Ya, ibu saya bilang kalau "uni.. kali ini kamu sudah mom anggap sebagai dewasa bukan sebagai abg labil kayak waktu itu." Jujur sebenarnya kalimat itu sangatlah sepele. Namun membuat saya berfikir sekitar 100 kali untuk menghadapi kenyataan bahwa kini saya sudah tidak bisa main-main lagi dengan hidup saya.

Mungkin dulu prinsip saya adalah 'ah nanti saja lah taubatnya. toh juga saya masih muda. masih terlalu jauh untuk memikirkan hal-hal macam itu.' Namun semua pemikiran tentang itu justru sangat salah besar. Sebulan yang lalu saya baru saja kehilangan salah satu teman saya (untuk yang kesekian kalinya mengingat sudah ada beberapa teman saya yang mendahului saya menghadap sang pencipta). Karena hal itulah semakin kesini saya berfikir bahwa memang benar-benar tidak ada yang tahu ajal kan menjemput kita. Bisa kapan saja kita dijemput oleh malaikat yang ditugaskan Tuhan mencabut nyawa kita. Sehingga tidak ada lagi kata 'nanti saja' karena bisa jadi detik itu juga adalah saat atau kesempatan terakhir kalian untuk melakukan hal itu. Tentunya hal yang baik ya bukan hal maksiat.

Baiklah mungkin segini dulu hal yang ingin saya bagikan. Entah ada yang membaca atau tidak haha jika saya sempat dan ingat, saya akan membagi cerita keseharian saya. Anggap saja ini menjadi resolusi tahun 2018 saya walau baru terealisasikan setelah bulan ke dua.

All the love,
N.

No comments:

Post a Comment